header ads

Sunday, June 16, 2019

Dewi365 || Budidaya Ulat Sutra, Meraupuh Rupiah Dengan Kain Sutra





Dewi365 Situs Betting Online & Agen Poker Terpercaya - Sepertinya sudah bukan rahasia lagi ya kalau ulat sutera ini sangat tinggi kebutuhannya. Sayangnya masih sedikit yang mencoba usaha budidaya ternak ulat sutra. Padahal kalau dilirik lagi usaha ini peluangnya besar sekali.


Selain untuk dunia fashion, ternyata kepompongnya sering digunakan untuk masker kecantikan. Kadang kita sedikit takut mencoba usaha ini karena kekhawatiran kerugian yang besar. Tapi apakah harus serumit harganya di pasaran?


Harga tinggi, perawatannya juga butuh konsentrasi tinggi? Setelah membaca ulasan ini Anda mungkin baru bisa memutuskan.


Sekilas Tentang Ulat Sutra (Ulat Murbei) 

Ulat Murbei atau yang lebih dikenal dengan ulat Sutra adalah salah satu jenis ngengat yang bisa menghasilkan serat atau benang sutra/ sutera. Ulat ini hanya memakan daun Murbei, sehingga untuk membudidayakannya maka peternak harus punya pasokan daun Murbei yang baik.


Dalamperkembangan menjadi ulat, sebutir telur ulat sutera butuh waktu 10 hari agar menetas. Setelah telur tersebut menetas dan menjadi ulat, maka akan terbentuk kepompong mentah.

Kepompong tersebutlah yang nantinya dipintal menjadi benang sutera yang panjangnya bisa mencapai 300 meter hingga 900 meter dengan diamater 10 mikrometer

.

Video singkat bagaimana budi daya Ulat Sutra


Dalam hidup Ulat Sutera terjadi empat fase ganti kulit. Ketika warna kulit ulat Sutera telah kekuningan dan lebih ketat, maka ini menandakan bahwa ulat Sutera tersebut akan segera membungkus diri dan berubah menjadi kepompong.

Ulat sutra – Ngengat sutra atau ulat murbei adalah salah satu serangga dari jenis ulat yang dari sisi ekonomi mempunya nilai yang sangat tinggi. Sebab ulat ini merupakan ulat satu-satunya penghasil serat atau benang sutra.
Adapun makanan ulat sutra adalah daun murbei. Selain daun murbei ulat sutra tidak akan memakannya.

Dalam perkembangan menjadi ulat, maka telur ulat sutera membutuhkan waktu sekitar 10 hari untuk menetas. Setelah menetas yang kemudian menjadi ulat maka akan membentuk kepompong mentah.

Nah, kepompong mentah ini yang nantinya akan dipintal menjadi benang sutra sepanjang 300 meter sampai dengan 900 meter. Serat atau benang sutra yang dipintal memiliki diameter sekitar 10 mikrometer.

Hal yang cukup mengejutkan dari ulat sutra adalah dalam hal makanan. Bisa dikatakan bahwa ulat sutra termasuk jenis ulat yang sangat rakus dalam hal makanan. Ulat ini akan makan sepanjang hari baik itu siang maupun malam.
Dan ini dilakukannya semata-mata untuk tumbuh dan berkembang lebih cepat. Adapun hal yang perlu diketahui bahwa ulat sutra mengalami empat fase ganti kulit.


Apabila warna kulitnya kekuningan dan lebih ketat ini menandakan bahwa ulat sutra akan segera membungkus diri dengan berubah menjadi kepompong.


Cara Budidaya Ulat Sutera Dari Persiapan Sampai Perawatannya

Pada budidaya ulat sutera area pemeliharaan ulat kecil dikerjakan pada tempat yang khusus disebut UPUK (Unit Pemeliharaan Ulat Kecil). Ruang pemeliharaan pada budidaya ulat suteraperlu dilengkapi dengan jendela atau ventilasi untuk sarana sirkulasi udara supaya suhu yang ada di dalam ruangan tetap terjaga.

Ruang pemeliharaan untuk budidaya ulat sutera minimal dilengkapi dengan kotak atau rak untuk tempat pemeliharaan ulat sutera, gunting stek, area daun, pisau, jaring ulat, ember/baskom, ayakan, kain penutup daun, hulu ayam, kertas minyak/parafin, kerta alas, lap tangan dan lain-lain.

Pengembangan ulat sutera jenis samia cynthia ricini, mempunyai nilai yang sangat bagus untuk meningkatkan ekonomi di daerah dan kesejahteraan masyarakat daerah. Oleh karena itu, ulat itu tidak makan daun murbei seperti jenis ulat sutera biasa. Melainkan bisa memakan daun singkong yang banyak terdapat di daerah Wonogiri.

Penelitian budidaya ulat sutera pemakan daun singkong yang sedang dikembangkan di Kabupaten Wonogiri, merupakan salah satu cara untuk meningkatkan produktifitas petani, kualitas, dan kapasitas produksi pertanian yang belum sepenuhnya di adopsi oleh para petani sebagai masyarakat petani agro industri.

“Jka di bandingkan dengan kain sutera yang berasal dari China, kain tenun sutera kokon ulat sutera pemakan daun singkong kualitasnya lebih bagus. Selain pewarna benang sutera yang di proses dengan cara alami dari makanan yang di makan oleh ulat sutera pemakan daun singkong, siklus cuaca di Indonesia juga sesuai budidaya ulat sutera pemakan daun singkong” Terang Dra.Trimurti,MM

Persiapan Kandang Untuk Budidaya Ulat Sutera


Tahapan pertama untuk budidaya ulat sutera ialah persiapan. Untuk mempersiapkan peternakan ulat sutera, ada tiga hal yang paling utama yaitu tempat pemeliharaan, bibit, dan pakan. Kandang ulat sutera berbentuk ruangan dengan rak didalamnya.

Alangkah baiknya sediakan juga dua ruang yang berbeda untuk teknik beternak yang ditujukan untuk ulat sutera kecil dan ulat sutera besar. Pastikan ruangan mempunyai ventilasi dan jendela dan didesinfektan 2 atau 3 hari sebelum pemeliharaan ulat dimulai dengan memakai larutan kaporit 0,5% atau formalin (2-3%) disemprotkan secara merata ke seluruh raungan tempat pemeliharaan.
Bibit Ulat Sutera

Persiapan yang kedua dalam teknik budidaya ulat sutera ialah menyediakan bibit ulat sutera. Pesanlah bibit sekurang-kurangnya 10 hari sebelum pemeliharaan ulat akan dimulai dan lakukanlah inkubasi supaya penetasannya merata.

Sebarkan telur di dalam sebuah kotak penetasan lalu ditutup dengan menggunakan kertas putih tipis. Selanjutnya simpan pada kotak di dalam tempat sejuk yang terhindari dari sinar matahari secara langsung, di suhu berkisar 25 derajat celcius sampai 28 derajar celcius dan kelembaban sekitar 75 sampai 85%. Setelah terlihat bintik biru di telur, bungkus memakai kain hitam selama 2 hari, dan telur pun akan siap untuk dikembangbiakkan.
Pakan Ulat Sutera

Hal yang tidak kalah pentingnya di dalam berternak ulat sutera adalah pakan atau makanan ulatnya. Selain tanaman murbei, ulat sutera juga mempunyai kemamupuan lain untuk memakan tanaman selain tanaman murbei. Pakan tersebut adalah dari daun singkong.


Sebelum melakukan budidaya ulat sutera pemakan daun singkong ini sebaiknya dilakukan penanaman singkong terlebih dahulu supaya ketersediaan pakan ulat sutera saat sudah menetas dan berkembang bisa terpenuhi dengan baik. Dalam hal melakukan penanaman singkong untuk budidaya ulat sutera terdapat 2 metode yaitu Stek mata untuk hasil umbi yang bagus, lalu jarak tanam rapat 5 cm x 5 cm untuk hasil daun singkong yang banyak.
Siklus Hidup Ulat Sutera

Siklus hidup ulat sutera dimulai dari telur yang menetas menjadi ulat kecil dan berkembang menjadi ulat dewasa, kemudian berubah menjadi pupa atau kepompong, dan akhirnya menjadi ngengat yang akan menetaskan telur lagi. Ada lima fase atau instar selama hidup ulat sutera dimana pada setiap akhir instar, ulat sutera akan mengalami masa tidur atau istirahat, serta pergantian kulit. 

Pada instar 1 hingga instar 3, ulat sutera disebut ulat sutera kecil, sementara pada instar 4 sampai 5 ulat sutera disebut ulat sutera besar.
Proses Pemeliharaan atau Perawatan Budidaya Ulat Sutera

Ulat yang baru menetas dari kotak inkubasi dipindahkan kedalam tempat pemeliharaan untuk ulat kecil dan diberi makan secara teratur tiga kali sehari pada pagi, siang, dan sore hari. Setelah itu, kurang lebih 4 hari, ulat muda akan berada pada akhir instar pertama dan kemudian akan mengalami masa tidur. 

Pada masa tidur, ulat ditaburi kapur dan tidak perlu diberi makan, serta jangan lupa untuk membuka ventilasi dan jendela supaya udara mengalir dengan baik.Setelah itu, instar kedua pun dimulai. Ulat kembali diberi makan hingga kembali mengalami masa istirahat pada akhir instar.

Lakukan hal yang sama dalam memelihara hingga ulat berada pada akhir instar ketiga. Pada saat tersebut ulat sudah berukuran cukup besar dan harus dipindahkan ke ruangan yang lebih luas dengan suhu 24 sampai 26 derajat celcius dan kelembapan sekitar 70 sampai 75%. Pada instar kelima, ulat akan mulai mengkokon. 

Ulat yang siap mengkokon dipindahkan kedalam alat pengokonan yang dapat terbuat dari karton, plastik atau bambu. Pengkokonan berlangsung selama sekitar 7 hari dan selanjutnya kokon siap dipanen dan dipasarkan atau diolah sebagai benang bahan baku pembuatan kain sutera.

No comments:

Post a Comment